Berita

PEMERINTAHAN DESA MAJU, KENAPA SDM NYA BERBEDA?

PEMERINTAH DESA MAJU, KENAPA SDM-NYA BISA BERBEDA?

Pernah ga sih kita melihat ada pemerintah desa yang pelayanannya cepat, perangkatnya kompak, administrasinya rapi, bahkan inovasinya jalan terus. Tapi di sisi lain, ada juga desa yang programnya tersendat, kerja saling tunggu, dan suasananya seperti mesin yang hidup tapi gigi transmisinya belum masuk.
Lantas kenapa bisa begitu?
Mari kita bedah satu satu.
Banyak orang mengira maju tidaknya desa itu tergantung dana. Padahal tidak sepenuhnya begitu. Karena faktanya, ada desa dengan anggaran biasa saja tapi mampu berkembang, dan ada juga yang anggarannya besar namun hasilnya belum maksimal.
Salah satu kuncinya ada pada leadership atau kepemimpinan.
Nah, leadership ini sering dipahami keliru. Banyak yang menganggap semua tergantung Kepala Desa. Padahal pemerintah desa itu seperti tim sepak bola. Kades memang kaptennya, tapi pertandingan tidak akan menang kalau pemain lain hanya berdiri sambil melihat.
Mari kita lihat perannya.
Pertama, Kepala Desa atau Kades.
Kades itu ibarat nahkoda kapal. Tugasnya bukan mengerjakan semua sendiri sampai seperti punya delapan tangan. Yang paling penting justru menentukan arah, mengambil keputusan, membangun komunikasi, dan memastikan seluruh perangkat bekerja sesuai tujuan.
Kalau Kades punya leadership yang baik, biasanya perangkat jadi semangat karena merasa diajak berjalan bersama, bukan sekadar diperintah.
Tapi jangan salah.
Kades yang hebat sekalipun bisa kewalahan kalau sistem kerjanya tidak dibangun.
Di sinilah peran Sekdes menjadi penting.
Kalau Kades nahkoda, Sekdes itu ruang kontrolnya. Sekdes mengawal administrasi, mengatur koordinasi, memastikan agenda berjalan, dan menjadi penghubung antar perangkat.
Kadang orang hanya melihat kegiatan di lapangan, padahal di balik satu kegiatan ada surat, data, laporan, dan administrasi yang harus rapi. Kalau Sekdes kuat, biasanya dapur pemerintahan juga tertata.
Berikutnya ada Kaur dan Kasi.
Nah ini sering jadi bagian yang kurang dipahami. Padahal masing-masing sudah punya tugas.
Kaur mengurus administrasi, keuangan, sampai perencanaan. Sedangkan Kasi lebih banyak menangani pelayanan, pemerintahan, pembangunan, dan kegiatan sosial masyarakat.
Kalau semua tupoksi berjalan, pekerjaan tidak menumpuk di satu orang. Karena pemerintahan desa itu bukan lomba siapa paling sibuk, tapi bagaimana pekerjaan bisa terbagi dan selesai.
Lalu ada sosok yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu Kepala Dusun atau Kadus.
Kadus ini sering jadi garda depan. Mulai dari menyampaikan informasi, mendengar keluhan warga, membantu pelayanan, sampai membaca kondisi wilayah.
Kadang jam kerja kantor selesai, tapi tugas sosial Kadus belum tentu selesai. Karena masyarakat tahunya bukan jam pelayanan, tapi siapa yang bisa ditemui ketika ada persoalan.
Lalu muncul pertanyaan.
Leadership desa harus dari siapa? Kades, Sekdes, atau perangkat?
Jawabannya: semua punya peran.
Desa yang maju biasanya bukan karena satu orang hebat, tapi karena ada budaya kerja yang sehat.
Kades memberi arah.
Sekdes menjaga sistem.
Kasi dan Kaur menjalankan tupoksi.
Kadus membaca kebutuhan warga.
Dan perangkat desa punya inisiatif untuk belajar dan bergerak.
Karena pada akhirnya, kualitas SDM pemerintah desa bukan hanya soal pintar atau tidak, tapi soal mau belajar, mau bekerja sama, dan mau berkembang bersama.
Desa maju bukan sulap, bukan juga kerja satu malam. Tapi hasil dari leadership yang sehat dan tim yang mau berjalan dalam tujuan yang sama.

Share :