KETIKA PEMUDA TIDAK DIBERI RUANG
Desa bukan hanya tentang jalan, pembangunan fisik, dan administrasi pemerintahan. Desa juga tentang manusia, terutama generasi mudanya.
Sangat disayangkan jika Desa justru tidak memiliki kemauan untuk membentuk dan menghidupkan Karang Taruna, sekaligus tidak memberikan ruang yang cukup bagi pemuda untuk berkreativitas, berorganisasi, dan berkontribusi dalam pembangunan desa.
Pemuda bukan sekadar pelengkap dalam setiap kegiatan seremonial. Mereka adalah energi, gagasan, dan masa depan desa.
Kalau pemuda hanya diminta hadir ketika dibutuhkan, tetapi tidak pernah diberi kesempatan untuk menyampaikan ide, mengelola kegiatan, mengembangkan kreativitas, atau mengambil bagian dalam pembangunan, lalu bagaimana desa berharap lahir generasi yang peduli terhadap desanya?
Kepemimpinan yang baik seharusnya membuka ruang, bukan menutup ruang. Merangkul pemuda, bukan menjadikan mereka sekadar penonton.
Karang Taruna bukan ancaman bagi pemerintah desa. Justru dapat menjadi mitra strategis dalam bidang sosial, olahraga, seni budaya, kewirausahaan, lingkungan, hingga kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Jangan takut pada pemuda yang kritis. Takutlah pada generasi muda yang akhirnya memilih tidak peduli terhadap desanya.
Karena ketika kreativitas pemuda dibungkam dan organisasi kepemudaan tidak diberi ruang, yang kehilangan bukan hanya pemuda—tetapi desa itu sendiri sedang kehilangan salah satu kekuatan masa depannya.
Desa yang maju bukan desa yang hanya membangun infrastrukturnya, tetapi desa yang juga memberi ruang bagi generasi mudanya untuk tumbuh, berkarya, dan mengambil peran.

Share :